Leksikon duniaku. Semua tentang aku. Sharing sekelumit imajinasi dan sedikit ilmu. Very me lexicon, salah satu tempat aku menjadi aku tanpa perlu ragu.
Selasa, 23 Juli 2013
Ramayana bukan epos romantis (opini)
Ramayana adalah epos yang aslinya berasal dari India. Tokoh utamanya yaitu Rama dan Sita. Rama merupakan putra pertama raja Dasarata dengan Kausalya. Raja Dasarata memiliki tiga orang istri, Kausalya, Kaikeyi dan Sumitra. Istri kedua Dasarata memiliki anak kembar Satrugna dan Laksmana sedangkan istri termudanya berputra Barata.
Sewajarnya ketika masa tua raja Dasarata pun memutuskan mengangkat salah seorang anaknya untuk menjadi Raja di Kosala dengan ibu kota Ayodya. Dasarata berniat mengangkat Rama, putra tertuanya menjadi penerus tetapi niatnya itu digagalkan oleh Kaikeyi, ibunda Barata. Dengan dalih janji di masa lalu yang harus ditepati oleh seorang penganut Darma, maka Raja Dasarata dengan terpaksa menyerahkan tahtanya pada Barata dan Rama harus melakukan pengasingan ke hutan selama empat belas tahun. Alkisah pergilah Rama ditemani istrinya Sita dan saudara tirinya Laksmana ke hutan. Di tengah perjalanan, Sita diculik oleh Rawana, seorang raksasa berkepala sepuluh yang memimpin kerajaan Alengka. Berkat bantuan dari bala tentara kera, Rama dan Laksmana berhasil merebut kembali Sita. Tetapi Rama tidak serta merta bahagia dengan kembalinya Sita, dia justru menghinakan Sita dengan mempertanyakan kesucian Sita. Sita tahu dirinya masih suci. Sebenarnya Rawana memang tidak akan berani memperkosanya atau wanita manapun sebab kutukan dari Brahma yang akan membuat kepalanya pecah seratus keping jika Rawana berani memperkosa.
Akhirnya Sita meminta Laksmana menyiapkan api korban untuknya. Setelah api membesar dan setelah melakukan sembah hormat pada suaminya, Sita menenggelamkan diri ke dalam api. Meski kemudian Sita berhasil lolos dalam kobaran api karena dia memang masih suci tetapi tindakan Rama yang menyakiti istrinya di depan umum. Rama tidak akan menerima Sita kembali kalau saja seandainya Sita sudah tidak suci lagi yang mana bukan kemauannya. Hal ini terbukti dalam kalimat Rama :
“Dengan membunuh Rawana aku telah membalas hinaan yang ditimpakan padaku. Aku telah merebutmu kembali. Walaupun ini sama sulitnya seperti perjalanan penaklukan ke selatan oleh perta Agastya tapi harap diperhatikan! Perang ini, pertempuran ini, di mana para sahabat membantuku, bukanlah untukmu. Semoga kau sejahtera, Sita, jangan kau salah mengerti. Kelakukan apa yang harus kulakukan untuk melenyapkan hinaan yang mencoreng nama keluargaku. … apakah kau kira orang seperti aku akan mau kembali menerimamu? ….
Cuplikan dialog yang dilakukan Rama jelas menunjukkan bahwa Rama tidak mau menerima Sita kembali karena nama baiknya akan tercoreng kalau dia kembali menerima Sita yang dikiranya telah ternoda. Tetapi api suci berhasil membuktikan kesucian Sita dan karena itu Rama kembali menerima Sita.
Kehidupan tokoh utama Ramayana kembali bahagia di dalam istana. Hingga suatu hari saat Sita tengah hamil dia berkeinginan untuk pergi ke sungai Gangga dan memberikan persembahan kepada para petapa di sana. Rama berjanji akan mengabulkannya.
Suatu ketika Rama tengah berbincang-bincang dengan Wijaya, Madumata, Kasapa, Manggala, Kula, Suraji, Kalia, Badra, Dantawakta, dan Sumagada. Kemudian Rama meminta Badra untuk memberitahunya apa yang menjadi pembicaraan di masyarakat. Awalnya Badra hanya menceritakan pujian yang dikatakan masyarakat tentang Rama. Tetapi Rama mendesak Badra untuk berterus terang. Badra pun menceritakan desas-desus yang tersebar di masyarakat tentang Rama dan Sita. Rupanya masyarakat merasa tindakan Rama yang menerima Sita sebagai suatu kesalahan. Di mata masyarakat Sita adalah wanita yang pernah lama ditahan oleh Rawana dan tidak mungkin Rawana tidak berbuat apapun padanya. Pernyataan Badra kemudian dibenarkan oleh yang lainnya.
Dan berikut adalah perintah Rama kepada Laksmana setelah mendengar berita yang disampaikan Badra.
“Laksmana, besok pagi, dengan Sumantra sebagai kusirnya, bawalah keretaku. Di fajar menyingsing ajaklah Sita dan tinggalkanlah dia di luar kerajaanku. Tak jauh dari Gangga, di tepi sungai Tamasa, adalah pedepokan suci milik begawan sakti Walmiki. Tinggalkan Sita di dekatnya, di tempat sepi tersembunyi. Bergegaslah Laksmana, laksanakan perintahku. Janganlah membantah. Sedikit keraguanmu, akan sangat menyakiti hatiku. Aku bersumpah demi kakiku, aku bersumpah demi nyawaku, barang siapa menentang perintah ini akan jadi musuhku yang abadi! Kalau kalian menghormati aku kerjakanlah perintaku. Bawalah Sita pergi saat ini juga. Beberapa waktu yang lalu Sita berkata kepadaku, ‘Aku ingin mengunjungi pedepokan di tepi Gangga, penuhilah idamanku!’ ”
Perintah itupun dilaksanakan oleh Laksmana. Sita dibawa ke sungai Gangga tanpa tahu dia akan ditinggalkan di tempat itu selamanya. Sita lalu menangis saat kereta Laksmana kembali dan meninggalkannya.
Peristiwa ini jelas bertentangan dengan sifat romantis. Rama membuang Sita yang tengah mengandung anaknya di tengah hutan demi penilaian masyarakat tanpa mempertimbangkan perasaan Sita dan bayi mereka kelak. Sebagai seorang raja, Rama memang seorang pemimpin yang sangat peduli pada masalah masyarakat dan selalu berusaha menjadikan dirinya tauladan yang baik untuk rakyatnya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar